mencari 5 judul cerpen
1. Robohnya Surau Kami
• Penulis: A.A. Navis (Ali Akbar Navis)
• Penerbit Utama: PT Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan dalam bentuk buku kumpulan cerpen oleh Penerbit Nusantara pada 1961, kemudian populer diterbitkan ulang oleh Gramedia sejak 1986)
Sinopsis
Cerita pendek ini berpusat pada seorang Kakek (garin atau penjaga surau) yang sangat rajin beribadah, menghabiskan hari-hari dengan shalat, berzikir, dan merawat surau. Suatu hari, seorang tokoh bernama Ajo Sidi datang dan menceritakan sebuah kisah alegori tentang Haji Saleh.
Dalam cerita Ajo Sidi tersebut, Haji Saleh yang sangat alim dan rajin beribadah di dunia justru dimasukkan ke neraka oleh Tuhan. Alasannya karena Haji Saleh lalai terhadap urusan dunia, mengabaikan kesejahteraan keluarganya, dan hanya mementingkan ibadah ritual untuk dirinya sendiri tanpa peduli pada sesama.
Mendengar cerita sindiran tersebut, Kakek merasa terpukul, tersinggung, dan menyadari kehampaan hidup serta ibadahnya selama ini. Karena tidak kuat menanggung rasa bersalah dan keputusasaan akibat makna cerita tersebut, Kakek akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara menggorok lehernya sendiri di surau.
2. Sepotong Senja Untuk Pacarku
• Penulis: Seno Gumira Ajidarma
• Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
• Tahun Terbit Pertama: 2002 (kumpulan cerpen)
Sinopsis
Cerita ini berpusat pada tokoh bernama Sukab, seorang lelaki yang nekat memotong langit senja di sebuah pantai karena kecintaannya yang begitu besar.
Setelah memotong dan mengambil sepotong senja tersebut, Sukab sempat menyembunyikannya dari polisi di sebuah saluran air. Ia kemudian mengirimkan potongan senja itu melalui pos kepada kekasihnya yang bernama Alina.
Namun, paket yang berisi senja itu baru sampai dan diterima oleh Alina setelah 10 tahun kemudian. Cerpen ini memadukan unsur romantis, puitis, sekaligus absurd untuk menggambarkan kedalaman dan tragedi dari perasaan cinta
3. Senyum Karyamin
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 1989
Sinopsis
Cerpen Senyum Karyamin menceritakan kehidupan Karyamin, seorang buruh pengangkut batu yang hidup dalam kemiskinan. Setiap hari ia bekerja keras mengangkat batu dari sungai untuk mendapatkan upah.
Suatu hari, Karyamin terjatuh beberapa kali karena tubuhnya lemas akibat belum makan.
Di tengah kesulitan tersebut, Karyamin tetap berusaha tersenyum dan tidak ingin merepotkan orang lain.
Ia juga menghadapi keadaan yang serba sulit karena hasil kerjanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Cerita ini menggambarkan perjuangan masyarakat kecil dalam menghadapi kemiskinan, sekaligus menunjukkan sikap sabar dan kuat dalam menghadapi kehidupan.
4. Filosofi Kopi
Penulis: Dee Lestari (Dewi Lestari)
Penerbit: Truedee Books
Tahun terbit: 2006
Sinopsis
Cerpen Filosofi Kopi menceritakan Ben dan Jody, dua sahabat yang menjalankan kedai kopi. Ben adalah seorang peracik kopi yang sangat percaya bahwa setiap kopi memiliki filosofi dan makna tersendiri. Ia ingin menciptakan kopi terbaik yang dapat menggambarkan kesempurnaan hidup.
Ben kemudian membuat kopi bernama Ben’s Perfecto dan merasa telah menemukan kopi yang sempurna. Namun, setelah bertemu dengan seorang pria yang memperkenalkan kopi Tiwus, Ben menyadari bahwa kesempurnaan tidak selalu berarti sesuatu yang paling mahal atau terkenal. Dari pengalaman tersebut, Ben belajar bahwa kebahagiaan dan kesempurnaan hidup dapat ditemukan dalam hal-hal sederhana.
5. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun terbit: 1972
Sinopsis
Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan menceritakan percakapan antara Marno dan Jane di sebuah apartemen di Manhattan. Marno adalah orang Indonesia yang sedang berada di Amerika, sedangkan Jane adalah perempuan Amerika yang merasa kesepian setelah hubungannya dengan suaminya mengalami masalah.
Dalam percakapan mereka, terlihat perbedaan kehidupan dan cara pandang antara keduanya. Jane banyak membicarakan kesepian dan masa lalunya, sementara Marno lebih banyak mengenang Indonesia. Bayangan tentang kunang-kunang menjadi simbol kerinduan terhadap suasana yang sederhana dan hangat. Cerpen ini menggambarkan kesepian, kerinduan, perbedaan budaya, dan kehidupan manusia di kota besar.
Komentar
Posting Komentar